Mengambil Teladan dari ‘Atha bin Rabah

1

November 4, 2012 by kanesty

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Terkait penugasan nih, dari jejeran Tokoh Islam yang bisa dipilih, saya memutuskan untuk mempelajari kisah ‘Atha bin Rabah. Sebelumnya saya belum pernah tahu tentang beliau *aduh kemana aja sih edis* dan saat membaca situs sana-sini… Subhanallah, ada orang yang sehebat ini. Berikut yang dapat saya rangkum dari kisah ‘Atha bin Rabah:

Atha bin Abi Raba dilahirkan di sebuah desa di negeri Yaman yang bernama Al-Janad di masa kekhalifahan Utsman bin Affan dan wafat pada tahun 114 H. Ayahnya dikenal dengan Abu Rabah Aswadan, nama aslinya Aslam dan ibunya bernama Barokah.

Atha adalah seorang yang berkulit hitam legam, berambut keriting, dan berbibir tebal. Semasa di Mekah ia menjadi budak dari seorang wanita yang bernama Habibah binti Maisarah bin Abi Hutsaim. Pada masa itu, ia membagi waktunya menjadi tiga bagian dengan sesempurna-sempurnanya: ibadah kepada Allah, menuntut ilmu dari para sahabat, dan melayani majikannya sebaik mungkin.

Tatkala sang tuan melihat budaknya ini mempunyai semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu dan berkhidmat kepada agama Allah, maka ia pun berinisiatif untuk membebaskannya dan mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bebaslah Atha dari belenggu perbudakan yang membatasi gerak-geriknya dalam meraih keutamaan di jalan Allah. Ia menjadi orang yang merdeka dan hanya menjadi budakAllah Ta’ala, Dzat yang telah menciptakan seluruh alam semesta ini. Hingga dua puluh tahun berikutnya, ia tinggal di masjidil haram. Sejak saat itu, hidupnya dihabiskan untuk dua hal saja, yaitu beribadah kepada Allah dan menuntut ilmu dari para sahabat. Guru-guru Atha bin Abi Rabah, adalah para Sahabat Nabi, yang terkenal dalam dan luas ilmunya, seperti Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, dll.

Dibandingkan dengan manusia lainnya, ‘Atha termasuk manusia pilihan yang sangat patut diteladani dalam hal kedisiplinan. Sangat jarang orang yang mampu berdisiplin sepertinya. Ia mendisiplin dirinya sehingga selama hidupnya tidak pernah sekalipun melakukan hal yang tidak bermanfaat sebagaimana yang dilakukan oleh pemuda-pemuda kebanyakan, dan selama hidupnya ia tidak pernah ngobrol dan bercanda. Pernah dalam suatu perjalanan ia melihat sebuah kota yang telah ditinggalkan penghuninya, lalu ia berfikir : “Kapan kota ini didirikan?” Kemudian ia menyesali diri karena memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat dan karenanya ia menghukum dirinya untuk berpuasa selang-sehari selama setahun penuh. Waktunya seumur hidupnya selalu dihabiskan untuk belajar, berfikir dan beribadah.

Maka sesuai dengan firman Allah,”“Allah akan meninggikan orangorang beriman di antaramu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS.Al Mujadalah:11), pada masanya tak ada yang berani memberikan fatwa di Masjidil Haram kecuali dirinya, karena hormat akan kedalaman dan keluasan ilmu agama yang dimilikinya, sehingga ia dijuluki SAYYIDUL FUQAHA AL HIJAZ (Pemimpin para ahli Fiqh di Makkah dan Madinah. Telah diriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin Umar sedang menuju ke Mekkah untuk beribadah umrah. Lalu orang-orang menemuinya untuk bertanya dan meminta fatwa, maka ‘Abdullah berkata, “Sesungguhnya saya sangat heran kepada kalian, wahai penduduk Makkah, mengapa kamu mengerumuniku untuk menanyakan suatu permasalahan, sedangkan di tengah-tengah kalian sudah ada ‘Atha’ bin Abi Rabah?!.”

Meskipun demikian, ‘Atha tetaplah rendah hati. Imam Ibnu Abi Laila mengatakan, “Aku pernah berjumpa dengan Atha. Lalu ia menanyakan beberapa hal kepadaku. Maka sahabat-sahabat Atha tercengang keheranan seraya mengatakan, ‘bagaimana mungkin engkau yang bertanya kepadanya?’ Atha menjawab, ‘apa yang kalian herankan? Dia orang yang lebih berilmu daripada saya.”

Wara’

Perangai mulia yang lainnya adalah wara’ dan menjaga diri dari melanggar keharaman-keharaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hakikat penghambaan diri seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjauhkan dirinya dari segala yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan termasukwara’ adalah menjaga lisan dari mengucapkan sesuatu yang tidak didasari dengan ilmu dan bayyinah(bukti).

Abu Khaitsamah dari Abdul Aziz bin Rafi’ berkata: “Atha pernah ditanya tentang suatu masalah lalu ia menjawab, “Aku tidak tahu.” Lalu ada yang mengatakan, “Mengapa engkau tidak menajawab saja pertanyaan tersebut dengan pendapatmu.” Ia menjawab, “Sungguh, aku malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila ada seorang beragama di muka bumi ini hanya berpedoman pada pendapatku.”

Muhammad bin Suqoh mengatakan, “Maukah kalian aku ceritakan sesuatu yang bermanfaat bagi kalian seabagaimana juga bermanfaat bagiku?” Mereka menjawab, “Tentu.” Kemudian ia menceritakan tentang Atha, “Suatu ketika Atha bin Abi Rabah menasihatiku dengan mengatakan, ‘wahai anak saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum kita (para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam) membenci banyak bicara.’ Aku pun bertanya, ‘Apa sajakah yang termasuk banyak bicara menurut mereka?’ Ia mengatakan, ‘Sesungguhnya mereka (para sahabat) menganggap banyak bicara apabila seseorang mengatakan perkataan selain kitabullah yang dibaca dan dipahami, atau hadis-hadis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diriwayatkan, atau mengajak kepada yang baik dan mencegah dari yang jelek dan hina, atau berbicara suatu ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau membicarakan kebutuhan hidup. Tidakkah kalian ingat “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (Q.S. al-Infithor: 10-11).

Lalu ia menasihatkan, “Tidakkah kalian malu seandainya kelak lembaran-lembaran catatan amalan dibentangkan lalu di dalamnya dijumpai kebanyakan perkara-perkara yang bukan termasuk dari bagian agama tidak pula dunia?!!.”

Zuhud

Dunia telah berdatangan kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah namun dia berpaling dan menolaknya dengan keras Dia hidup sepanjang umurnya hanya dengan mengenakan baju yang harganya tidak melebihi lima dirham.

Para khalifah telah mengundangnya supaya dia menemani mereka. Akan tetapi bukan dia tidak memenuhi ajakan mereka, karena mengkhawatirkan agamanya daripada dunianya; akan tetapi disamping itu dia datang kepada mereka jika dalam kedatangannya ada manfaat bagi kaum muslimin atau ada kebaikan untuk Islam.

Seperti yang dikisahkan oleh Utsman bin Atha Al-Khurasany, dia berkata, “Aku di dalam suatu perjalanan bersama ayahku, kami ingin berkunjung kepada Hisyam bin Abdul Malik. Ketika kami telah berjalan mendekati Damaskus, tiba-tiba kami melihat orang tua di atas Himar hitam, dengan mengenakan baju jelek dan kasar jahitannya. serta memakai jubah lusuh dan berpeci. Tempat duduknya terbuat dari kayu, maka aku tertawakan dia dan aku berkata kepada ayah, “Siapa ini?” Maka ayah berkata, “Diam, ini adalah penghulu ahli fiqih penduduk Hijaz ‘Atha’ bin Abi Rabah.” Ketika orang itu telah dekat dengan kami, ayah turun dari keledainya.

Sampai di pintu istana, Khalifah Hisyam sambut Atha dg lebih istimewa dibanding orang yg bersamanya. Didudukkan Atha di tempat mewah. Lutut Khalifah begitu dekat dg lututnya. Semua tamu dr kalangan bangsawan terdiam menunggu Atha angkat bicara.

Bertanyalah Khalifah Hisyam kepada Atha bin Abi Rabah, “Wahai Abu Muhammad, apakah kebutuhanmu?”

Atha menjawab, ‘Wahai Amirul Mukminin, bertakwalah kepada Allah atas apa yang Allah dan rasul-Nya larang dan hendaklah Anda jalankan kepemimpinan dengan bijaksana. Bertakwalah kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala terhadap urusan muhajirin dan ansar, karena merekalah Anda memiliki singgasana. Bertakwalah atas urusan kaum muslim yang tinggal di perbatasan negeri, karena merekalah perisai dan pertahanan kaum muslim. Tunaikan seluruh perkara kaum muslim karena Andalah yang bertanggung jawab tentangnya. Dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas orang-orang lemah, janganlah Anda pancangkan palang pintu istana untuk mereka.” Maka Amirul Mukminin menjawab, “Semua itu akan kulakukan.”

Lalu Atha pun berdiri. Abdul Malik segera meraih tangannya seraya berucap, “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya engkau dari tadi memintakan urusan orang lain kepadaku dan aku berjanji akan menunaikannya, namun engkau sendiri apa yang menjadi kebutuhanmu?” Atha menjawab, “Saya tidak meminta kepada makhluk akan kebutuhan saya.”

Dan ketika kami telah sampai ke pintu, ternyata ada seseorang yang mengikuti ‘Atha dengan membawa kantong, dan orang itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya Amirul mu’minin mengirim ini kepada anda.” Maka ‘Atha’ berkata, “Maaf aku tidak akan menerima ini.”
“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam ” (Asy-Syuara’, ayat:109)
Demi Allah, Sesungguhnya ‘Atha’ menemui Khalifah dan keluar dari sisinya tanpa meminum setetes air pun.

Selanjutnya ‘Atha’ bin Abi Rabah dikaruniai umur panjang hingga seratus tahun. Umur itu dia penuhi dengan ilmu, amal, kebaikan dan takwa. Dia membersihkannya dengan zuhud dari kekayaan yang ada di tangan manusia dan sangat mengharap ganjaran yang ada di sisi Allah.

Atha bin Abi Rabah meninggal dunia pada tahun 114 atau 115 Hijriah dalam umur 88 tahun. Ketika dia wafat, ribuan orang menshalatkan sampai-sampai di masjidil Haram dilaksanakan shalat janazah berkali-kali karena banyaknya yang ingin menshalatkan. Dan ketika mereka mengangkat jenazahnya, maka mereka semua terheran-heran karena mayatnya sangat ringan seperti bulu, sebab tidak sedikitpun membawa keduniaan serta dipenuhi oleh berbagai bekal untuk akhirat yang banyak.

Al-Auza’i mengatakan, “Atha bin Abi Rabah meninggal dunia. Ia adalah penduduk bumi yang paling diridhai.”

Mutiara Teladan

Beberapa teladan yang semestinya dimiliki seorang muslim di antaranya:

  1. Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Kebutuhan kita terhadap ilmu lebih dari kebutuhan kita terhadap makanan dan minuman. Utamanya lagi ilmu yang dapat menunjukkan jalan penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Ilmu dapat mengangkat derajat seseorang menjadi mulia; mulia di hadapan manusia dan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  3. Merupakan tanda barokahnya ilmu seseorang adalah ilmu tersebut dapat mengarahkannya untuk semakin merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena seseorang yang makin mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala maka ia akan makin mengetahui kekerdilan dan kehinaan dirinya di hadapan-Nya.
  4. Hendaklah seorang muslim berhias dengan perangai terpuji berupa sifat wara’ dan menjaga diri dari keharaman-keharaman Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
  5. Saling menasihati di dalam kebaikan dan kesabaran adalah ciri kebaikan seorang muslim. Karena agama adalah nasihat dan nasihat itu bermanfaat bagi seorang muslim.

Sumber:

1. Kisah Muslim (Biografi ‘Atha bin Rabah, 1 & 2)

2. Kisah-kisah Teladan

3. Untung Kasirin

4. Materi Tarbiyah

Advertisements

One thought on “Mengambil Teladan dari ‘Atha bin Rabah

  1. Dian says:

    Subhanallah,,,
    sangat inspiratif…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


me? random & unpredictable.

i’ve got this :D

November 2012
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: