BtB on Wedding Organizer: Kena, deh!

Leave a comment

October 28, 2014 by kanesty

BtB seriesnya dilanjutin habis merit, coba. Saya ini gimana, sih >.<

Sebenernya ada satu draft posting yang mau saya share sebelum nikah. Nulisnya pake emosi ditambah banget. Entah karena saya ngerasa kecolongan apa entah saya terlalu tegang mempersiapkan perangkat demi perangkat acara. Tapi dipikir-pikir, Alhamdulillah postingan itu ngga jadi di-publish karena setelah acara usai, saya bisa nulis dengan pikiran lebih clear, hehe.

Kecele

Bahasa jaman kapan sih, dis. Pake istilah kecele?

Tadinya mau pake kata kecolongan tapi kayanya lebay banget. Tar kalo ditanya, “apa sih yang dicolong?” saya juga bingung jawabnya. Jadi saya pake kata kecele ini aja deh ya.

Alkisah, setelah tanggal mengikrarkan janji suci telah disepakati, saya dan keluarga mulai memikirkan bagaimana acara diselenggarakan.

Menimbang jumlah undangan, acara diselenggarakan di gedung demi alasan kepraktisan. Lokasi di Bandung supaya lebih mudah terjangkau (dibanding Cimahi).

Menimbang pekerjaan saya di luar kota dan aktivitas orangtua yang jam terbangnya tinggi, saya menyarankan untuk menggunakan jasa WO (Wedding Organizer). Ibu yang cari WO lalu jika dirasa cocok kami survey bareng waktu weekend.

Setelah searching2 WO yang sesuai dengan budget (karena target saya dan Ibu simple aja: semua tamu bisa dijamu dengan baik. Soal konsep sih, asal layak, dianggap beres), ditemukanlah sebuah WO yang terbilang murah dan ternyata letaknya dekat dengan rumah.

Setelah beberapa kali pertemuan, diundanglah kami ke acara pernikahan kliennya sebagai contoh referensi. Namun ternyata, Ibu kurang cocok dengan cateringnya: dari segi rasa dan cara penyajian.

Perjalanan mencari WO pun dilanjutkan…

Selang beberapa hari, Ibu menelepon saya (posisi saya di Jakarta dan Ibu di rumah). Katanya, Ibu nemu catering yang enak tapi murah. Dikenalin sama temennya Ibu. Maka Sabtunya meluncurlah saya ke rumah. Kami bertemu Ibu PIC Catering dari XXX Catering dan cerita sana-sini. Singkat cerita, Ibunya menawarkan buat nge-WO-in yaitu selain catering juga menyediakan tata rias, dekor, souvenir, personil acara dan undangan. Punya rekanan katanya. Beliau janji ngasih perincian biaya seusai pertemuan.

Malamnya, beliau mengirimkan sms berupa rincian item dan total biaya ke hp ibu. Di sms tersebut ngga ada perincian item undangan. Bertanya-tanyalah kita…biasanya kalo paket WO kan udah sama undangan, ya?

Daripada bikin asumsi sendiri, saya mendesak ibu buat nelpon Ibu Catering ini. “Bu, perincian ini teh udah sama souvenir sama undangan kan ya?”

“Iya, bu..”->intinya Ibu Catering jawabnya begini. Telepon pun ditutup.

Setelah dihitung-hitung, ternyata besaran biaya yang dikeluarkan sama dengan WO yang batal kemarin itu. Jadilah kita ambil tawaran di-WO-in ibu ini.

Terus kecele kenapa?

Beberapa minggu setelahnya, Ibu saya sudah men-DP dan kami diundang ke resepsi kliennya sebagai contoh. Di sana, kami ketemu Ibu Catering daaaaan diberi kabar, “Ibu punten lepat, ai undangan mah teu acan dietang jadi nambihan deui sakieu ((jumlah undangan) x (harga satuan))”

terjemahan:

Ibu maaf salah (konfirmasi kemarin), undangan belum include dari perhitungan harga sebelumnya jadi nambah lagi sekian harga

Kagetlah kita. buat ukuran keluarga semacam saya, mengeluarkan uang untuk biaya resepsi ngga seringan buang angin. Kenapa waktu kita nelpon jawabnya undangan include, kita tinggal duduk manis. Kenapa juga ngga langsung konfirm setelah nyadar salah (well dari gelagatnya sih saya pikir sebenernya waktu ditelepon itu ibunya tahu harusnya dia jawab ngga include, cuma biar calon kliennya jadi aja dia bilang iya). Kita dikasihtahu harus nambah lagi setelah DP dipakai ibu Catering buat bayar ini itu dan vendor undangan yang dipilih si Ibu sudah dalam keadaan beli bahan. Ilfeel ngga sih ngerasa dijebak gini :|.

Tapi nasi sudah jadi bubur, yang bisa dilakukan cuma muter otak lagi ngusahain uangnya dari mana :’). Biidznillah kita kan ngadain acara niatnya baik insha Allah dicukupkan oleh Allah.

Detik demi detik berlalu…

Akhirnya H-7. Saya memulai cuti saya biar fokus persiapan resepsi (persiapan akad sudah dibereskan orangtua Alhamdulillah). Sampai di rumah hari sabtu, hari minggu dipertemukan dengan masing-masing PIC (dekor, fotografi, MC, entertainment) dan disana baru saya tahu untuk koordinasinya harus dengan masing2 PIC langsung :’)

Padahal kan tujuan sebenarnya pakai WO itu biar kita cukup berhubungan sama satu orang aja :’)

Kalau gini tujuan aslinya ga tercapai dong :’)

:’)

:’)

*dalam hati: untung cuti dari seminggu sebelum acara, jadi masih bisa kehandle :’)

Gitu deh.

Sebenernya ya, kesalahan bukan pada Ibu Cateringnya (selain waktu tidak menginfokan soal biaya undangan lebih cepat). Saya pikir kesalahan ada pada kami sebagai klien yang kurang cermat dalam bertransaksi. Selain karena belum berpengalaman dalam memakai jasa WO, kami juga terlalu mengutamakan prinsip “percaya aja sama Ibunya” padahal hitam di atas putih perlu biar jelas A-Znya. Hikmah yang bisa diambil: kalo emang perlu banget jasa organizer-nya, pilih vendor yang beneran WO, bukan rekanan..Karena nyatanya sistem kerjanya beda ya. Pelajaran buat adek2 saya nanti kalo pake WO lagi waktu nikah :))

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: