NL on Salah Fokus

3

December 18, 2014 by kanesty

Gimana sih rasanya jadi penganten baru?

Kaya Raffi sama Gigi gitu ya, kerjaannya manja-manjaan tiap hari?

Hihi, pas hanimun sih iya. Tiap hari kerjaannya bangun, makan, jalan-jalan, kelon-kelonan, dan hal-hal menyenangkan lainnya.

Tapi semua berubah saat negara api menyerang kembali ke kehidupan nyata.

Memasuki dunia nyata, saya tentunya ingin memerankan peran istri dengan baik. Di Indonesia, istri yang baik sering diterjemahkan sebagai masakan enak, rumah rapi, suami senang. Sebagai seorang melankolis pada umumnya, jiwa perfeksionis saya muncul.

Menu masaknya harus beragam! cucian dan setrikaan ga boleh numpuk! nyapu dan ngepel tiap hari!

dan jadinya capek sendiri :’)

Gimana gak capek. Suami ternyata kebutuhannya lebih besar daripada saya sendiri.

kamu makan seperti biasa tapi memasak tiga kali lipat banyaknya.

cucian menggunung tiga kali dari biasanya.

Pulang kerja, pekerjaan rumah menunggu.

Lelah rasanya, ingin rehat, tapi kepikiran beban kerjaan rumah menggunung. Terus memaksakan diri untuk menyelesaikan semuanya.

Apalagi pada saat-saat seperti itu…. kamu melihat suami tidur-tiduran sambil main hp.

Rasanya ingin meledak! Hehe.

Ini riak-riak pertama dalam kehidupan rumah tangga saya.

“Kok gitu sih. Ngga liat apa, aku capek-capek gini, suami malah tidur-tiduran! Kan tenaganya lebih besar, tapi aku capek ngga dibantuiin. hiks.” ngomel dalam hati.

sementara pikiran suami:

“Ini kenapa istri cemberut terus sih. daripada liat muka istri asem gitu mending aku tiduran aja.”

“Jadi suami kok gak peka!” -dalam hati-

Iya. Buyar deh semua ingatan tentang buku-buku dan artikel yang dibaca sebelum nikah. Akibat obsesi memerankan istri baik. Ujung-ujungnya malah ngga baik kan, bikin bt suami. Udah badan capek tapi pekerjaan rumah ada terus. Marah-marah padahal masalah belum dikomunikasikan dengan baik. Keburu mutung!

Sampai suatu saat suami ngajak makan di luar. Ngajak diskusi tentang kami berdua. Saya ngomel sambil sesekali mengusap sudut mata. Malu kalo sampai kelepasan nangis di tempat umum..untung (kayaknya) ngga ada yang merhatiin juga.

“Udah…ngga ada yang mau diceritain lagi?” agak lembut suami saya bertanya.

Hening beberapa saat.

“Mas itu, harapannya…

Seenggaknya punya istri itu…

Waktu mas pulang, istri itu senyum.”

“Mas lo ngga apa-apa kamu ngga usah ngerjain semuanya sekaligus.

Kamu kalo ngga mau masak mas bisa cari makan sendiri.

Kamu kalo ngga mau cuciin baju mas, yaudah cuci baju kamu sendiri aja. Mas cuci baju sendiri. Kaya kita masing-masing waktu masih sendiri dulu lo ga apa-apa.

Ya kalau sulit terbiasa, ngga usahlah kita tergesa-gesa.

Kok ya pulang ke rumah, istri cemberut. Ditanyain diem…

dst dst dst.”

Waktu suami saya ngomong ini, hati saya belom luluh. Maklum harapan saya inginnya suami bantu ngerjain bareng-bareng, malah diminta masing-masing. Malah tambah sedih yang ada :|. Tapi perlahan suami mulai menangkap maksud saya. Saya nyuci, suami jemurin. Saya masak, suami buang sampah. Pokoknya ketika saya mengerjakan pekerjaan rumah, suami kelihatan ikut ambil bagian. Hasilnya, senyuman istri pun sedikit banyak mulai terbit lagi, hehe.

Keadaan jadi lebih santai. Hingga suatu ketika, saat kami sedang bersantai, saya rasanya senaang sekali melihat tawa suami saya.

Lalu saya tersadar.

Tujuan saya berumah tangga itu, utamanya bukan memasak, membereskan rumah, dan membereskan segudang pekerjaan rumah lainnya.

Saya menikah itu, adalah jalinan ikatan sepanjang masa dengan suami saya. Bahwa membangun hubungan baik dengan suami, adalah lebih utama daripada membereskan urusan dapur, sumur, kasur semata. Kesuksesan saya diukur dari keridhoannya, bukan berdasar parameter yang saya definisikan sendiri. Istri masuk surga karena ketaatannya sama suami kan…

Ya…jadilah sekarang. Isi rumah berantakan! Pekerjaan rumah numpuk sana-sini karena frekuensi pengerjaannya berkurang. Tapi lebih banyak senyum dan tawa suami, Alhamdulillah…

Masih panjang jalan yang harus kita tempuh suamiku, untuk pernikahan yang barokah. Bismillah..

-ditulis sebulan setelah konflik usai, hehe-

Advertisements

3 thoughts on “NL on Salah Fokus

  1. abi_gilang says:

    Terasa aura keceriaan tulisannya, coba kalo ditulis saat puncak konflik pasti MENYERAMKAN :mrgreen: happy honeymonn and happy blogging 🙂

  2. duniaku says:

    dalam rumahtangga salah satu yang pentinting adalah komunikasi. Jika komunikasi mulai krang baik, maka kelangsungan rumah tangganya juga akan berjalan kurang baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: